Beberapa kelemahan pada jaringan wireless yang
bisa digunakan attacker melakukan serangan antara lain:
1. Hide SSID
Banyak administrator menyembunyikan Services Set Id (SSID)
jaringan wireless mereka dengan maksud agar hanya yang mengetahui SSID yang
dapat terhubung ke jaringan mereka. Hal ini tidaklah benar, karena SSID
sebenarnya tidak dapat disembuyikan secara sempurna. Pada saat saat tertentu
atau khususnya saat client akan terhubung (assosiate) atau ketika akan
memutuskan diri (deauthentication) dari sebuah jaringan wireless, maka client
akan tetap mengirimkan SSID dalam bentuk plain text (meskipun menggunakan enkripsi),
sehingga jika kita bermaksud menyadapnya, dapat dengan mudah menemukan
informasi tersebut. Beberapa tools yang dapat digunakan untuk mendapatkan ssid
yang di-hidden antara lain: kismet (kisMAC), ssid_jack (airjack), aircrack dan
masih banyak lagi. Berikut meupakan aplikasi Kismet yang secang melakukan sniffing.
2. WEP
Teknologi Wired Equivalency Privacy atau WEP memang merupakan
salah satu standar enkripsi yang paling banyak digunakan. Namun, teknik
enkripsi WEP ini memiliki celah keamanan yang cukup mengganggu. Bisa dikatakan,
celah keamanan ini sangat berbahaya. Tidak ada lagi data penting yang bisa
lewat dengan aman. Semua data yang telah dienkripsi sekalipun akan bisa
dipecahkan oleh para penyusup. Kelemahan WEP antara lain :
·
Masalah kunci yang
lemah, algoritma RC4 yang digunakan dapat dipecahkan.
·
WEP menggunakan kunci
yang bersifat statis.
·
Masalah Initialization
Vector (IV) WEP.
·
Masalah integritas
pesan Cyclic Redundancy Check (CRC-32)
Aplikasi yang bisa digunakan untuk melakukan mengcapture paket yaitu Airodump. aplikasi airodump yang sedang mengcaptute paket pada WLAN. Setelah data yang dicapture mencukupi, dilakukan proses cracking untuk menemukan WEP key. Aplikasi yang bisa digunakan untuk melakukan menembus enkripsi WEP yaitu Aircrack.
3. WPA-PSK atau WPA2-PSK
WPA merupakan teknologi keamanan sementara yang diciptakan untuk
menggantikan kunci WEP. Ada dua jenis yakni WPA personal (WPA-PSK), dan
WPA-RADIUS. Saat ini yang sudah dapat di crack adalah WPA-PSK, yakni dengan metode
brute force attack secara offline. Brute force dengan menggunakan mencoba-coba
banyak kata dari suatu kamus. Serangan ini akan berhasil jika passphrase yang
digunakan wireless tersebut memang terdapat pada kamus kata yang digunakan si
hacker. Untuk mencegah adanya serangan terhadap keamanan wireless menggunakan
WPA-PSK, gunakanlah passphrase yang cukup panjang (satu kalimat).
4. MAC Filter
Hampir setiap wireless access point maupun router difasilitasi
dengan keamanan MAC Filtering. Hal ini sebenarnya tidak banyak membantu dalam
mengamankan komunikasi wireless, karena MAC address sangat mudah dispoofing
atau bahkan dirubah. Tools ifconfig pada OS Linux/Unix atau beragam tools spt
network utilitis, regedit, smac, machange pada OS windows dengan mudah digunakan
untuk spoofing atau mengganti MAC address.
Masih sering ditemukan wifi di perkantoran dan bahkan ISP (yang biasanya digunakan oleh warnet-warnet) yang hanya menggunakan proteksi MAC Filtering. Dengan menggunakan aplikasi wardriving seperti kismet/kisMAC atau aircrack tools, dapat diperoleh informasi MAC address tiap client yang sedang terhubung ke sebuah Access Point. Setelah mendapatkan informasi tersebut, kita dapat terhubung ke Access point dengan mengubah MAC sesuai dengan client tadi. Pada jaringan wireless, duplikasi MAC address tidak mengakibatkan konflik. Hanya membutuhkan IP yang berbeda dengan client yang tadi.
Masih sering ditemukan wifi di perkantoran dan bahkan ISP (yang biasanya digunakan oleh warnet-warnet) yang hanya menggunakan proteksi MAC Filtering. Dengan menggunakan aplikasi wardriving seperti kismet/kisMAC atau aircrack tools, dapat diperoleh informasi MAC address tiap client yang sedang terhubung ke sebuah Access Point. Setelah mendapatkan informasi tersebut, kita dapat terhubung ke Access point dengan mengubah MAC sesuai dengan client tadi. Pada jaringan wireless, duplikasi MAC address tidak mengakibatkan konflik. Hanya membutuhkan IP yang berbeda dengan client yang tadi.
5. Weak protocols (protokol yang lemah)
Komunikasi jaringan komputer menggunakan protokol antara client
dan server. Kebanyakan dari protokol yang digunakan saat ini merupakan protocol
yang telah digunakan beberapa dasawarsa belakangan. Protokol lama ini, seperti
File Transmission Protocol (FTP), TFTP ataupun telnet, tidak didesain untuk
menjadi benar-benar aman. Malahan faktanya kebanyakan dari protocol ini sudah
seharusnya digantikan dengan protokol yang jauh lebih aman, dikarenakan banyak
titik rawan yang dapat menyebabkan pengguna (user) yang tidak bertanggung jawab
dapat melakukan eksploitasi. Sebagai contoh, seseorang dengan mudah dapat
mengawasi "traffic" dari telnet dan dapat mencari tahu nama user dan
password.
6. Software issue (masalah perangkat lunak)
Menjadi sesuatu yang mudah untuk melakukan eksploitasi celah
pada perangkat lunak. Celah ini biasanya tidak secara sengaja dibuat tapi
kebanyakan semua orang mengalami kerugian dari kelemahan seperti ini. Celah ini
biasanya dibakukan bahwa apapun yang dijalankan oleh "root" pasti
mempunyai akses "root", yaitu kemampuan untuk melakukan segalanya
didalam system tersebut. Eksploitasi yang sebenarnya mengambil keuntungan dari
lemahnya penanganan data yang tidak diduga oleh pengguna, sebagai contoh,
buffer overflow dari celah keamanan "format string" merupakan hal
yang biasa saat ini. Eksploitasi terhadap celah tersebut akan menuju kepada
situasi dimana hak akses pengguna akan dapat dinaikkan ke tingkat akses yang
lebih tinggi. Ini disebut juga dengan "rooting" sebuah
"host" dikarenakan penyerang biasanya membidik untuk mendapatkan hak
akses "root".
7. Hardware issue (masalah perangkat keras).
Biasanya perangkat keras tidak mempunyai masalah pada
penyerangan yang terjadi. Perangkat lunak yang dijalankan oleh perangkat keras
dan kemungkinan kurangnya dokumentasi spesifikasi teknis merupakan suatu titik
lemah. Berikut ini merupakan contoh bagaimana perangkat keras mempunyai masalah
dengan keamanan.
contoh 1: Cisco
Sudah lazim router cisco dianggap mempunyai masalah sistematis
didalam perangkat lunak IOS (Interwork operating system) yang digunakan oleh
mereka sebagai sistem operasi pada tahun 2003. Celah dalam perangkat lunak
dapat menuju kepada "denial of service" (Dos) dari semua
perangkatrouter. Masalah keamanan ini terdapat dalam cara IOS menangani
protokol 53(SWIPE), 55(IP Mobility) dan 77(Sun ND) dengan nilai TTL (Time to
live) 0 atau 1. Biasanya, Protocol Independent Multicast (PIM) dengan semua
nilai untuk hidup, dapat menyebabkan router menandai input permintaan yang
penuh terhadap "interface" yang dikirimkan. Sebagai permintaan bila
penuh, maka router tidak akan melakukan proses "traffic" apapun
terhadap "interface" yang dipertanyakan. Cisco juga mempunyai beberapa
celah keamanan yang terdokumentasi dan "patch" yang diperlukan telah
tersedia untuk waktu yang cukup lama.
contoh 2: Linksys
Perangkat linksys mempunyai harga yang cukup murah sehingga
banyak digunakan oleh orang. Beberapa perangkat linksys mempunyai masalah
dengan celah keamanan yang dapat menuju kepada serangan "denial of
service" (DoS). Celah keamanan yang memprihatinkan terdapat pada
penanganan parameter "URL Embedded" yang dikirimkan kepada perangkat.
8. Misconfiguration (konfigurasi yang salah).
Kesalahan konfigurasi pada server dan perangkat keras (hardware)
sangat sering membuat para penyusup dapat masuk kedalam suatu system dengan
mudah. Sebagai contoh, penggantian halaman depan suatu situs dikarenakan
kesalahan konfigurasi pada perangkat lunak "www-server" ataupun
modulnya. Konfigurasi yang tidak hati-hati dapat menyebabkan usaha penyusupan
menjadi jauh lebih mudah terlebih jika ada pilihan lain yang dapat diambil oleh
para penyusup. Sebagai contoh, sebuah server yang menjalankan beberapa layanan
SSH dapat dengan mudah disusupi apabila mengijinkan penggunaan protokol versi 1
atau "remote root login" (RLOGIN) diizinkan. Kesalahan konfigurasi
yang jelas ini menyebabkan terbukanya celah keamanan dengan penggunaan protokol
versi 1, seperti "buffer overflow" yang dapat menyebabkan penyusup
dapat mengambil hak akses "root" ataupun juga dengan menggunakan
metode "brute-force password" untuk dapat menebak password
"root".
Sumber
dari:
http://ilmu27.blogspot.co.id/2012/08/makalah-keamanan-jaringan-network.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar